Aku adalah hewan yang berjiwa manusia. Aku bisa berubah ke berbagai bentuk hewan. Hewan liar, jinak maupun buas. Aku bisa menjadi hewan apa saja tetapi jiwa ini tetap manusia. Bergerak dengan insting yang terkadang kerakusan hewaniah tidak bisa dikendalikan. Jiwa ini berakal tapi tidak dapat dikendalikan oleh insting hewani. Membunuh, mencabik, menggigit hingga pura - pura jinak telah aku lakoni dalam berbagai bentuk hewan. Aku bisa menjadi kucing pemalas dan penurut ataupun menjadi ular berbisa yang berdesis dan menerkam dengan tenang, cepat dan mematikan jika sudah menemukan mangsanya.
Kini, aku mulai bosan menjadi hewan berjiwa manusia karena terkadang aku harus memakan bangkai dan membinasakan teman sendiri hanya karena masalah daging ataupun kekuasaan tempat. Aku bosan karena aku selalu menang karena jiwa manusia ini membantuku. Aku menjadi raja hewan. Tiada tandingan dan mereka telah tunduk. Kebosanan itu yang membuat aku ingin menjadi manusia.
Aku ingin menjadi manusia karena mereka bisa berbicara ragam bahasa bahkan mereka bisa bahasa hewan. Mereka adalah makhluk sempurna dengan tubuh yang sempurna dibanding kami : hewan. Mereka punya akal sedangkan kami hanya mempunyai insting. Otak mereka digunakan untuk berpikir sedangkan kami, hanya sebagai penghias organ tubuh untuk mengikuti naluri hewan kami. Mereka terlihat ramah dan sangat menyenangkan, saling menjaga dan saling menghormati. Aku berjiwa manusia tapi terperangkap dalam tubuh hewan dan aku tidak bisa berbicara manusia karena tubuh hewan ini.
Aku ingin menjadi manusia. Andai manusia itu mendengarkanku. Aku menggonggong mereka kabur, Aku mengeong mereka beri aku susu, Aku berdesis mereka tidak peka dan ketika aku mengaum mereka bersorak. Mereka tidak mengerti yang aku sampaikan. Aku ingin menjadi manusia. Tubuh dan jiwa manusia agar aku bisa menjadi seperti mereka yang saling menghormati, menjaga dan menyayangi sesama manusia. Tidak seperti kami yang terkadang karena masalah daging sedikit bisa saling bunuh hingga meninggalkan kawanan. Aku ingin menjadi manusia : makhluk sempurna. Hewan berjiwa manusia saja iri apalagi makhluk lain.
Selasa, 26 April 2016
Sabtu, 16 April 2016
Berpikir sejenak (7)
Mempunyai pendidikan tinggi tentunya menjadi sebuah impian bagi banyak orang. Ada yang sudah mencapainya dan ada pula yang sedang memperjuangkannya. Dengan mempunyai pendidikan yang tinggi juga diharapkan bisa mendapatkan penghasilan sesuai harapan karena untuk sekolah di universitas saja sudah butuh banyak biaya.
Seharusnya kita bisa bersyukur dengan mencapai pendidikan yang tinggi karena kita hanya sebagian kecil dari sekian ratus juta orang Indonesia yang masih sulit mendapatkan akses belajar dan mencapai pendidikan yang tinggi. Sayangnya sebagai manusia kita masih kurang bersyukur. Lihat saja pelajar - pelajar sekarang bagaimana perilaku mereka. Mungkin saja nilai akademis mereka baik tapi untuk attitude dan manner masih harus dipertanyakan. Banyak yang kita bisa jadikan contoh. Pejabat - pejabat yang ada di negeri ini, mereka adalah orang - orang terpelajar dan terpilih mempunyai wawasan tinggi tapi kenapa mereka melakukan korupsi? Betapa kejamnnya sebuah uang. Ia hanya benda mati tapi dapat membius dan mempengaruhi orang - orang terpelajar.
Pejabat seharusnya memperhatikan rakyat bukan diri sendiri. Ilmu yang mereka dapat digunakan untuk membodohi rakyat dengan bahasa yang tidak mudah dimengerti. Lalu bagaimana dengan attitude dan manner? Itu semua pun mulai memudar. Lihat saja perilaku para petinggi di Indonesia. Mereka malah bermewah - mewahan apalagi dengan rencana pembangunan gedung perpustakaan di DPR. Padahal di ujung negeri ini masih banyak yang buta huruf dan tidak bisa mendapatkan akses buku yang bagus.
Lantas bagaimana dengan sila kelima dari pancasila? Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia Masih jauh dari itu. Kini, sebagai pemuda kita tidak bisa terus menerus mengeluhi sebuah keadaan tapi memikirkan sebuah ide untuk diterapkan agar Indonesia bisa menjadi lebih baik. Karena generasi muda adalah penerus bagi kemajuan di negeri ini. Kualitas generasi muda Indonesia sekarang bisa menjadi proyeksi bagaimana Indonesia ke depan. Sudahkah kita berpikir kesana? Di tahun dimana kita menjadi pemimpin negeri dan pengambil keputusan. Akankah kita mencontoh para penguasa saat ini?
Seharusnya kita bisa bersyukur dengan mencapai pendidikan yang tinggi karena kita hanya sebagian kecil dari sekian ratus juta orang Indonesia yang masih sulit mendapatkan akses belajar dan mencapai pendidikan yang tinggi. Sayangnya sebagai manusia kita masih kurang bersyukur. Lihat saja pelajar - pelajar sekarang bagaimana perilaku mereka. Mungkin saja nilai akademis mereka baik tapi untuk attitude dan manner masih harus dipertanyakan. Banyak yang kita bisa jadikan contoh. Pejabat - pejabat yang ada di negeri ini, mereka adalah orang - orang terpelajar dan terpilih mempunyai wawasan tinggi tapi kenapa mereka melakukan korupsi? Betapa kejamnnya sebuah uang. Ia hanya benda mati tapi dapat membius dan mempengaruhi orang - orang terpelajar.
Pejabat seharusnya memperhatikan rakyat bukan diri sendiri. Ilmu yang mereka dapat digunakan untuk membodohi rakyat dengan bahasa yang tidak mudah dimengerti. Lalu bagaimana dengan attitude dan manner? Itu semua pun mulai memudar. Lihat saja perilaku para petinggi di Indonesia. Mereka malah bermewah - mewahan apalagi dengan rencana pembangunan gedung perpustakaan di DPR. Padahal di ujung negeri ini masih banyak yang buta huruf dan tidak bisa mendapatkan akses buku yang bagus.
Lantas bagaimana dengan sila kelima dari pancasila? Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia Masih jauh dari itu. Kini, sebagai pemuda kita tidak bisa terus menerus mengeluhi sebuah keadaan tapi memikirkan sebuah ide untuk diterapkan agar Indonesia bisa menjadi lebih baik. Karena generasi muda adalah penerus bagi kemajuan di negeri ini. Kualitas generasi muda Indonesia sekarang bisa menjadi proyeksi bagaimana Indonesia ke depan. Sudahkah kita berpikir kesana? Di tahun dimana kita menjadi pemimpin negeri dan pengambil keputusan. Akankah kita mencontoh para penguasa saat ini?
Rabu, 03 Februari 2016
Harus Bagaimana
Sang anak bersenandung di jalan
Dengan suara yang nanar
Diiringi merdunya suara sang bunda
Sedangkan bangku - bangku sekolah sering dirindukan
Anjing dan kucing dirawat
Dimandikan sewangi perawan kota
Diberinya makan daging dan tempat buang hajat
Dibuatkannya rumah yang nyaman
Di tempat lain ada yang tidur di rumah kucing
Kemana arah semua ini
Mengapa tidak sinkron
Di pepohonan pusat kota ada anjing buang hajat
Dengan suara yang nanar
Diiringi merdunya suara sang bunda
Sedangkan bangku - bangku sekolah sering dirindukan
Anjing dan kucing dirawat
Dimandikan sewangi perawan kota
Diberinya makan daging dan tempat buang hajat
Dibuatkannya rumah yang nyaman
Di tempat lain ada yang tidur di rumah kucing
Kemana arah semua ini
Mengapa tidak sinkron
Di pepohonan pusat kota ada anjing buang hajat
Selasa, 26 Januari 2016
Kepada Pemeluk Modal
Kepada pemeluk modal
Aku berpegang teguh
Atas jasamu aku bersungguh - sungguh
Mengabdi demi keuntungan
Menepis kerugian
Syarat dan aturan akan dipenuhi
Demi keberlangsungan untung dan untung
Jikalau rugi aku akan tetap berdiri
Asal jangan kau suruh kami duduk manis
Keselamatan kami diutamakan
Jika untung sudah datang
Tak apalah asap solder aku hirup
Aku anggap sebagai asap rokok
Asalkan istri selalu menanti
Aku akan mengabdi
Aku berpegang teguh
Atas jasamu aku bersungguh - sungguh
Mengabdi demi keuntungan
Menepis kerugian
Syarat dan aturan akan dipenuhi
Demi keberlangsungan untung dan untung
Jikalau rugi aku akan tetap berdiri
Asal jangan kau suruh kami duduk manis
Keselamatan kami diutamakan
Jika untung sudah datang
Tak apalah asap solder aku hirup
Aku anggap sebagai asap rokok
Asalkan istri selalu menanti
Aku akan mengabdi
Senin, 25 Januari 2016
Senandung Hujan
Mampirlah sejenak
Kau akan tahu betapa sunyinya tempat ini
Menetaplah
Kegelisahanmu perlahan akan hilang
Menginaplah sementara
Diluar hujan badai tak kunjung reda
Tinggallah
Dari sini kau akan melihat pelangi
Kau akan tahu betapa sunyinya tempat ini
Menetaplah
Kegelisahanmu perlahan akan hilang
Menginaplah sementara
Diluar hujan badai tak kunjung reda
Tinggallah
Dari sini kau akan melihat pelangi
Senin, 18 Januari 2016
Siapa yang Salah? Aku atau Kamu
Siapa yang salah?
Aku yang salah?
Berijazah sekolah rakyat
Mampu membaca tapi tidak mengkaji
Mampu menulis tapi tidak berisi
Aku mengeluh kepada Kamu
Mengapa Kamu tidak mengajari?
Malah berkumpul bersama elitis
Katanya, demi masa depan rakyat kecil
Mengkaji sampai pagi
Tulisan yang sarat makna tapi tidak berjiwa
Siapa yang salah?
Kamu yang salah?
Bergelar Professor, Doktor, Master
Berbicara dengan berbagai bahasa
Semua tangan pejabat sudah disalami
Lalu Kamu mengeluh kepada Aku
Mengapa Aku tidak bekerja?
Mengapa Aku tidak belajar?
Malah berkumpul ha ha hi hi
Catur di siang hari gaple di malamnya
Katanya, Kamu sudah memikirkan Aku
Demi masa depan cerah
Semua tangan temanku sudah disalami
Bekal untuk masa depan
Lalu Aku mengeluh lagi kepada Kamu
Kamu balas menyalami Aku
Menjadi Kita
Siapa yang disalahkan?
Aku yang salah?
Berijazah sekolah rakyat
Mampu membaca tapi tidak mengkaji
Mampu menulis tapi tidak berisi
Aku mengeluh kepada Kamu
Mengapa Kamu tidak mengajari?
Malah berkumpul bersama elitis
Katanya, demi masa depan rakyat kecil
Mengkaji sampai pagi
Tulisan yang sarat makna tapi tidak berjiwa
Siapa yang salah?
Kamu yang salah?
Bergelar Professor, Doktor, Master
Berbicara dengan berbagai bahasa
Semua tangan pejabat sudah disalami
Lalu Kamu mengeluh kepada Aku
Mengapa Aku tidak bekerja?
Mengapa Aku tidak belajar?
Malah berkumpul ha ha hi hi
Catur di siang hari gaple di malamnya
Katanya, Kamu sudah memikirkan Aku
Demi masa depan cerah
Semua tangan temanku sudah disalami
Bekal untuk masa depan
Lalu Aku mengeluh lagi kepada Kamu
Kamu balas menyalami Aku
Menjadi Kita
Siapa yang disalahkan?
Kamis, 14 Januari 2016
Nyaris Tragis
Aku dan kamu pernah menjadi kita
Kini, kita sudah tiada
Menjadi kata ganti tunggal
Oleh sebuah jamak
Kini, kita sudah tiada
Menjadi kata ganti tunggal
Oleh sebuah jamak
Langganan:
Postingan (Atom)