Minggu, 23 Agustus 2015

Berpikir Sejenak (3)

Entahlah perasaan apa ini tapi kini aku melihat disini sudah terlalu banyak orang bodoh, tidak peduli dan licik yang hidup. Mereka hanya sekedar hidup tidak ada beda seperti binatang. Mereka hanya sekedar bekerja memenuhi isi dompet dan perut. Dari yang tidak berpendidikan hingga yang sudah mempunyai banyak gelar. Gelar tinggi tidak membuat kita menjadi lebih baik kadang menjadikan kita lebih buruk daripada seorang pemulung. Apakah keseimbangan antara bodoh dan pintar, baik dan buruk sudah mulai timpang. Terlalu tinggi neraca keburukan menyebabkan orang - orang baik dan peduli tidak bisa melakukan apa - apa. Coba lihat saja lampu merah Jakarta di pagi hari saat jam sibuk bekerja. Mereka punya alasan untuk melanggar dengan alasan agar tidak terlambat kerja, kalau terlambat bekerja, gaji bisa dipotong, kalau gaji semakin kecil tidak bisa ngasih makan anak istri. Yakin dengan cara seperti itu menafkahi anak istri? Tidakkah merasa berdosa? mementingkan kepentingan pribadi diatas kepentingan banyak orang.

Lihat saja angkot - angkot yang ngetem di pinggir jalan menghambat pekerja lainnya untuk pergi bekerja atau para koruptor dan mafia yang memakmurkan diri sendiri diatas penderitaan orang banyak dan para hakim penegak hukum yang rela dibayar mahal oleh koruptor untuk meringankan beban mereka ketika di penjara? Dimana moralitas? Kepedulian? Bukankah sejak kecil kita diajarkan untuk berbuat baik? Orang tua pernah bilang kalau sudah besar kita baru bisa membedakan mana yang baik dan buruk. Para orang dewasa pun tau mana yang baik dan buruk, mereka hanya menutup sebelah mata keburukan dan menganggap semua itu baik - baik saja.

Mungkinkah diri ini yang terlalu polos. Tidak sadar bahwa dunia kejam dan keras, menjadi orang baik dan polos siap - siap untuk ditipu dan ditelan oleh pusara kehidupan yang kejam ini. Tidak akan ada yang mengingatmu, mereka akan melupakanmu dan menjauhkanmu karena menjadi beda dari kebanyakan orang. Saya rasa kita hidup untuk kemakmuran, kejayaan, kebanggan dan kekayaan. Siapa yang tidak ingin mendapatkan hal tersebut. Kita semua ingin hidup seperti itu. Lantas, adakah yang ingin hidup untuk meningkatkan harga diri? Melalui kebaikan, ketulusan, kepedulian dan ke ramah tamahan tanpa pandang bulu dengan siapapun kita bertemu. Oiya, harga diri orang kebanyakan dibentuk oleh kekayaan yang mereka punya. Tidak banyak orang yang kepalanya "berisi" dihargai oleh banyak orang, hanya sedikit yang mengetahui dan menghargai.

Jangan heran kalau suatu saat akan ada zaman kebodohan di dunia dimana pemimpin - pemimpin dunia diisi oleh orang - orang kaya, makmur dan jaya yang dihargai oleh banyak orang tapi tidak bisa mengubah rakyat menjadi pintar. Ya, sistem pembodohan. Orang - orang bodoh terpelajar memimpin orang - orang bodoh.

Lihatlah sekeliling kau akan tau apa yang sedang terjadi. Jika terus seperti ini kita hanya perlu menunggu waktu seperti penyakit yang menumpuk di dalam tubuh, menunggu tubuh ini lemah lalu menyerang hingga kita tak berdaya dan mati.

Jumat, 31 Juli 2015

Bulan Penuh

Bulan penuh ini menjadi alat komunikasi kita tanpa harus berucap dan bergerak
Ia menjadi cermin yang memantulkan cahaya rindu ke setiap manusia yang bersabar menunggu
Tataplah ia maka ia akan menatapmu kembali seperti tatapannya saat pertama jumpa
Walaupun terpisah jarak kita masih bisa saling menatap melalui cahaya cermin bulan
Bersabarlah, cahayanya tidak akan pernah redup untuk selalu menyinarimu

Minggu, 26 Juli 2015

Ketika Mati Nanti

Ketika mati nanti
Aku tidak hanya ingin meninggalkan nama
Tapi jejak
Jejak yang tidak mudah dihapus oleh hujan
Bahkan dimakan zaman

Aku tidak hanya ingin dikenang
Tapi diingat
Tulisan yang menjamuri pikiran
Mewarisi setiap tindakan

Walaupun jasad ini terkubur oleh tanah
Gagasanku akan melambung tinggi
Menghujani setiap isi kepala yang ditetesinya
Meneruskan impian
Sebuah perdamaian abadi

Kamis, 25 Juni 2015

Pada Suatu Masa

Pada suatu masa
Pelangi tidak berwarna warni
Hujan tidak berbentuk air
Dan sore tidak lagi oranye

Pada suatu masa
Gunung tak lagi di daki
Ia dituruni

Burung - burung tidak lagi terbang
Mereka berjalan

Impian manusia menjadi nyata
Mereka berterbangan
Dimana - mana
Tanpa sayap

Menginjakkan tanah pun enggan
Sibuk dengan impian yang tercapai
Terbang hingga ke langit
Ingin melihat bintang lebih dekat

Pada suatu masa
Manusia meninggalkan bumi
Menjelajah angkasa
Meninggalkan bumi dan isinya
Terlantarlah ia tidak ada yang merawat

Begitulah manusia

Sabtu, 20 Juni 2015

Yang Terlupakan

Singgasana kehidupan
Nyaman ini serasa di surga
Segala ada dan tersedia
Tak perlu meminta

Datang dan kemarilah
Kita berpesta di setiap malam
Meredam suara alam
Mengalahkan gemerlap bintang - bintang di angkasa
Setiap malam

Sudikah pagi datang
Siang pun hanya tiba sesaat
Hanya ada malam
Malam yang panjang

Pagi hanya pemanis
Siang menjadi penghangat
Sore adalah permulaan
Tak pernah padam

Di sudut lain
Pagi terasa kelam
Siang menjadi gelap
Dan sore menjadi akhir
Berharap tidak bertemu pagi

Ia menunggu dalam kelam
Dicericiti oleh gagak yang singgah
Ia termangu dalam khayal
Pantaskah?

Rabu, 10 Juni 2015

Menemukanmu

Di tengah kekeringan yang melanda
Entah kapan berakhir
Oase muncul di tengah - tengah
Apakah itu fatamorgana?
Tapi ini bukan padang pasir
Hanya kekeringan yang luar biasa

Mulut daun berkeriput
Akar menyusut
Menggoyahkan yang ditanamnya
Terhempas oleh angin lewat

Sudah lama dilanda kekeringan
Apakah oase ini pertanda?
Pertanda untuk kekeringan selamanya
Atau
Kehidupan baru dimulai

Kamis, 04 Juni 2015

Pertemuan

Di saat itu
Kita bertemu
Hanya tatap yang berlalu
Seperti angin yang berhembus
Tidak ada kata yang terucap
Hanya mata yang berbicara
Yang dipantulkan oleh cahaya

Terdengar jelas
Mata yang bernada

Angin kembali berhembus
Berhembus berbisik
Sejuta kata tersuar
Menenggelamkan nada yang terdengar

Hening..