Aku dan kamu pernah menjadi kita
Kini, kita sudah tiada
Menjadi kata ganti tunggal
Oleh sebuah jamak
Kamis, 14 Januari 2016
Selasa, 12 Januari 2016
Jalan - jalan
Mari berjalan - jalan keliling angkasa
Kita keliling planet
Mars, Saturnus, Neptunus
Katanya, Mars bisa menggantikan Bumi
Sebagai penampungan kedua makhluk sempurna
Jika suatu saat Bumi sudah tidak berisi
Ayo lanjut keliling angkasa
Kita keliling galaksi
Ada Andromeda, Sombrero, Black Eye
Mereka tampak asing
Diantara puing - puing angkasa
Bergerak tidak beraturan
Dari galaksi ini Bumi sudah tidak nampak
Kecil sekali
Seperti titik di kertas dengan tinta biru
Ayo kita lanjut
Menuju batas angkasa
Darisana kita bisa melihat jurang angkasa
Katanya sebagai pemisah baik dan buruk
Disana juga ada ruang penghubung
Menghubungkan antara yang fana dan nyata
Menyingkap semua rahasia semesta
Disana, semua pertanyaan terjawab!
Minggu, 10 Januari 2016
Industrialis-me
Sekarang sawah - sawah mulai sepi
Asap industri mengebul
Pacul sudah usang
Terlalu berat
Diganti tombol - tombol hidup dan mati
Tinggal pijit
Praktis
Tidak ada bau matahari
Hanya bau oli dan suara mesin yang menderu
Kerbau - kerbau tidak lagi membajak
Mereka diganti oleh mesin bubut
Asap industri mengebul
Menjulang ke langit
Hitam pekat lalu menyebar ke seluruh negeri
Di ujung negeri sana ada yang mati
Katanya kanker paru - paru
Suara mesin berdengung dengan bising
Kerbau baru disembelih
Asap industri mengebul
Pacul sudah usang
Terlalu berat
Diganti tombol - tombol hidup dan mati
Tinggal pijit
Praktis
Tidak ada bau matahari
Hanya bau oli dan suara mesin yang menderu
Kerbau - kerbau tidak lagi membajak
Mereka diganti oleh mesin bubut
Asap industri mengebul
Menjulang ke langit
Hitam pekat lalu menyebar ke seluruh negeri
Di ujung negeri sana ada yang mati
Katanya kanker paru - paru
Suara mesin berdengung dengan bising
Kerbau baru disembelih
Sabtu, 09 Januari 2016
Malam yang Sunyi
Di kesunyian malam
Aku berpikir
Jarang sekali aku memujimu
Aku selalu meminta dan meminta
Bahkan hingga menyuruh
Kau jarang mengeluh
Walau wajahmu tampak lusuh
Tubuhmu mulai payah
Tak heran kau kini lebih suka bersandar
Ketimbang berjalan mengambil cangkir kopi
Kau tak sadar telah menua
Hidup terlalu cepat dan singkat
Seperti bayi yang terlahir
Dan lansia renta yang meninggal
Keduanya terdapat tangisan
Dalam perspektif yang berbeda
Di kesunyian malam
Aku bertanya
Apakah raga bisa ditukar?
Aku berpikir
Jarang sekali aku memujimu
Aku selalu meminta dan meminta
Bahkan hingga menyuruh
Kau jarang mengeluh
Walau wajahmu tampak lusuh
Tubuhmu mulai payah
Tak heran kau kini lebih suka bersandar
Ketimbang berjalan mengambil cangkir kopi
Kau tak sadar telah menua
Hidup terlalu cepat dan singkat
Seperti bayi yang terlahir
Dan lansia renta yang meninggal
Keduanya terdapat tangisan
Dalam perspektif yang berbeda
Di kesunyian malam
Aku bertanya
Apakah raga bisa ditukar?
Senin, 04 Januari 2016
Kehampaan
Aku berada diantara deburan ombak dan ilalang yang bergoyang
Angin yang membuatnya begitu
Menenangkan
Aku berada pada perjumpaan dan perpisahan
Keadaan yang membuatnya begitu
Membingungkan
Aku menjumpai deburan ombak lalu berpisah pada ilalang yang bergoyang
Aku menemukan kehampaan
Tidak ada lagi ketenangan ataupun kebingungan
Hanya hampa
Angin yang membuatnya begitu
Menenangkan
Aku berada pada perjumpaan dan perpisahan
Keadaan yang membuatnya begitu
Membingungkan
Aku menjumpai deburan ombak lalu berpisah pada ilalang yang bergoyang
Aku menemukan kehampaan
Tidak ada lagi ketenangan ataupun kebingungan
Hanya hampa
Rabu, 09 Desember 2015
Berpikir Sejenak (6)
Sampai sekarang saya baru tersadar mengapa saya selalu memberi judul "Berpikir Sejenak" bukan "Ayo Bertindak" atau "Mari Lakukan Sekarang". Sebenarnya tulisan ini bertujuan untuk mengajak kita berpikir dan melakukan tindakan apa yang telah dipikirkan. Bukan hanya memikirkannya tanpa bagaimana solusinya. Kini, saya pun masih seperti itu. Berpikir bagaimana solusi sebuah masalah dan tindakan yang saya lakukan masih sangat kecil sekali. Kadang, saya merasa ilmu yang saya miliki masih terlalu minim untuk bertindak besar. Itulah mengapa saya masih terus belajar untuk berpikir dan memberikan tindakan yang solutif dan memiliki impact yang besar.
Dipenghujung akhir tahun ini saya semakin sadar bahwa hal positif yang disebarkan akan bersifat seperti virus. They are going viral. Coba saja kita memposting salah satu gambar atau kata - kata yang bersifat mengajak berbuat baik seperti hope, compassion, volunteer dan lainnya. Saya sangat setuju dengan apa yang ditulis oleh Pandji Pragiwaksono mengenai kepedulian. Ya, bangsa Indonesia sangat peduli jika ada hal - hal yang bersifat hope, compassion, volunteer, disaster dan lainnya tapi masalahnya adalah untuk memulai menyebarkan virus itu. Budaya orang Indonesia adalah kata "terserah". Hey, mau makan dimana? "terserah, coba tanya si A. "A mau makan dimana?" "terserah deh, gua mah ngikut aja".
Saya juga percaya apa yang dosen saya pernah katakan bahwa orang - orang yang membawa perubahan itu hanya sebesar 2,5% (koreksi jika salah) dan orang - orang yang sangat tertinggal atau bisa kita bilang "Laggard" juga sebesar 2,5%. Lalu sisanya adalah kita (I hope I am the change maker) "Follower".
Kita bisa lihat contoh sepakbola dimana satu orang bintang sepakbola mempunyai follower yang begitu banyak, begitu juga dengan penyanyi, aktor, sastrawan, negarawan, budayawan dan lainnya. Mereka mempunyai pengikut atau follower. Sedangkan follower, fans ataupun pengikut hanya ikut saja. Walaupun nantinya ada yang terpengaruh untuk mengikuti jejak sang bintang tapi itu masih sedikit jumlahnya. Sekarang, tinggal dilihat saja, dimana posisi kita? Apakah ada yang dilakukan untuk berubah menjadi seperti bintang yang diikuti atau hanya menjadi pengikut saja.
Dipenghujung akhir tahun ini saya semakin sadar bahwa hal positif yang disebarkan akan bersifat seperti virus. They are going viral. Coba saja kita memposting salah satu gambar atau kata - kata yang bersifat mengajak berbuat baik seperti hope, compassion, volunteer dan lainnya. Saya sangat setuju dengan apa yang ditulis oleh Pandji Pragiwaksono mengenai kepedulian. Ya, bangsa Indonesia sangat peduli jika ada hal - hal yang bersifat hope, compassion, volunteer, disaster dan lainnya tapi masalahnya adalah untuk memulai menyebarkan virus itu. Budaya orang Indonesia adalah kata "terserah". Hey, mau makan dimana? "terserah, coba tanya si A. "A mau makan dimana?" "terserah deh, gua mah ngikut aja".
Saya juga percaya apa yang dosen saya pernah katakan bahwa orang - orang yang membawa perubahan itu hanya sebesar 2,5% (koreksi jika salah) dan orang - orang yang sangat tertinggal atau bisa kita bilang "Laggard" juga sebesar 2,5%. Lalu sisanya adalah kita (I hope I am the change maker) "Follower".
Kita bisa lihat contoh sepakbola dimana satu orang bintang sepakbola mempunyai follower yang begitu banyak, begitu juga dengan penyanyi, aktor, sastrawan, negarawan, budayawan dan lainnya. Mereka mempunyai pengikut atau follower. Sedangkan follower, fans ataupun pengikut hanya ikut saja. Walaupun nantinya ada yang terpengaruh untuk mengikuti jejak sang bintang tapi itu masih sedikit jumlahnya. Sekarang, tinggal dilihat saja, dimana posisi kita? Apakah ada yang dilakukan untuk berubah menjadi seperti bintang yang diikuti atau hanya menjadi pengikut saja.
Selasa, 08 Desember 2015
Kapan Kita Bisa Jumpa
Kapan kita bisa jumpa
Kau tak kunjung datang dari ujung malam
Diliputi rasa resah
Cahayamu tak kunjung nampak
Kini hanya sunyi yang mengecam
Cahayamu selalu terang dalam gelap
Kau tidak bisa redup
Layaknya matahari yang selalu bersinar
Tak pernah padam
Cahayamu abadi
Kapan kita bisa jumpa
Mungkinkah kau menghilang
Ditelan gelapnya malam
Kau tak kunjung datang dari ujung malam
Diliputi rasa resah
Cahayamu tak kunjung nampak
Kini hanya sunyi yang mengecam
Cahayamu selalu terang dalam gelap
Kau tidak bisa redup
Layaknya matahari yang selalu bersinar
Tak pernah padam
Cahayamu abadi
Kapan kita bisa jumpa
Mungkinkah kau menghilang
Ditelan gelapnya malam
Langganan:
Postingan (Atom)