Minggu, 10 Januari 2016

Industrialis-me

Sekarang sawah - sawah mulai sepi
Asap industri mengebul

Pacul sudah usang
Terlalu berat
Diganti tombol - tombol hidup dan mati
Tinggal pijit
Praktis

Tidak ada bau matahari
Hanya bau oli dan suara mesin yang menderu
Kerbau - kerbau tidak lagi membajak
Mereka diganti oleh mesin bubut

Asap industri mengebul
Menjulang ke langit
Hitam pekat lalu menyebar ke seluruh negeri

Di ujung negeri sana ada yang mati
Katanya kanker paru - paru

Suara mesin berdengung dengan bising
Kerbau baru disembelih

Sabtu, 09 Januari 2016

Malam yang Sunyi

Di kesunyian malam
Aku berpikir
Jarang sekali aku memujimu
Aku selalu meminta dan meminta
Bahkan hingga menyuruh

Kau jarang mengeluh
Walau wajahmu tampak lusuh

Tubuhmu mulai payah
Tak heran kau kini lebih suka bersandar
Ketimbang berjalan mengambil cangkir kopi

Kau tak sadar telah menua
Hidup terlalu cepat dan singkat
Seperti bayi yang terlahir
Dan lansia renta yang meninggal
Keduanya terdapat tangisan
Dalam perspektif yang berbeda

Di kesunyian malam
Aku bertanya
Apakah raga bisa ditukar?

Senin, 04 Januari 2016

Kehampaan

Aku berada diantara deburan ombak dan ilalang yang bergoyang
Angin yang membuatnya begitu
Menenangkan

Aku berada pada perjumpaan dan perpisahan
Keadaan yang membuatnya begitu
Membingungkan

Aku menjumpai deburan ombak lalu berpisah pada ilalang yang bergoyang
Aku menemukan kehampaan
Tidak ada lagi ketenangan ataupun kebingungan
Hanya hampa

Rabu, 09 Desember 2015

Berpikir Sejenak (6)

Sampai sekarang saya baru tersadar mengapa saya selalu memberi judul "Berpikir Sejenak" bukan "Ayo Bertindak" atau "Mari Lakukan Sekarang". Sebenarnya tulisan ini bertujuan untuk mengajak kita berpikir dan melakukan tindakan apa yang telah dipikirkan. Bukan hanya memikirkannya tanpa bagaimana solusinya. Kini, saya pun masih seperti itu. Berpikir bagaimana solusi sebuah masalah dan tindakan yang saya lakukan masih sangat kecil sekali. Kadang, saya merasa ilmu yang saya miliki masih terlalu minim untuk bertindak besar. Itulah mengapa saya masih terus belajar untuk berpikir dan memberikan tindakan yang solutif dan memiliki impact yang besar.

Dipenghujung akhir tahun ini saya semakin sadar bahwa hal positif yang disebarkan akan bersifat seperti virus. They are going viral. Coba saja kita memposting salah satu gambar atau kata - kata yang bersifat mengajak berbuat baik seperti hope, compassion, volunteer dan lainnya. Saya sangat setuju dengan apa yang  ditulis oleh Pandji Pragiwaksono mengenai kepedulian. Ya, bangsa Indonesia sangat peduli jika ada hal - hal yang bersifat hope, compassion, volunteer, disaster dan lainnya tapi masalahnya adalah untuk memulai menyebarkan virus itu. Budaya orang Indonesia adalah kata "terserah". Hey, mau makan dimana? "terserah, coba tanya si A. "A mau makan dimana?" "terserah deh, gua mah ngikut aja".

Saya juga percaya apa yang dosen saya pernah katakan bahwa orang - orang yang membawa perubahan itu hanya sebesar 2,5% (koreksi jika salah) dan orang - orang yang sangat tertinggal atau bisa kita bilang "Laggard" juga sebesar 2,5%. Lalu sisanya adalah kita (I hope I am the change maker) "Follower".

Kita bisa lihat contoh sepakbola dimana satu orang bintang sepakbola mempunyai follower yang begitu banyak, begitu juga dengan penyanyi, aktor, sastrawan, negarawan, budayawan dan lainnya. Mereka mempunyai pengikut atau follower. Sedangkan follower, fans ataupun pengikut hanya ikut saja. Walaupun nantinya ada yang terpengaruh untuk mengikuti jejak sang bintang tapi itu masih sedikit jumlahnya. Sekarang, tinggal dilihat saja, dimana posisi kita? Apakah ada yang dilakukan untuk berubah menjadi seperti bintang yang diikuti atau hanya menjadi pengikut saja.

Selasa, 08 Desember 2015

Kapan Kita Bisa Jumpa

Kapan kita bisa jumpa
Kau tak kunjung datang dari ujung malam
Diliputi rasa resah
Cahayamu tak kunjung nampak
Kini hanya sunyi yang mengecam

Cahayamu selalu terang dalam gelap
Kau tidak bisa redup
Layaknya matahari yang selalu bersinar
Tak pernah padam
Cahayamu abadi

Kapan kita bisa jumpa
Mungkinkah kau menghilang
Ditelan gelapnya malam

Minggu, 08 November 2015

Berpikir Sejenak (5)

Saya baru saja membaca buku tentang Muhammad Hatta. Kini, saya mempunyai tokoh panutan yang benar - benar cocok dengan saya. Beliau seorang yang sangat menyukai buku hingga pernah suatu saat bukunya terdapat lipatan ketika dipinjam lalu ketika dikembalikan kepada Bung Hatta Ia meminta temannya untuk mengganti buku tersebut. Seorang yang berbicaranya tidak meledak - ledak seperti Soekarno dan seorang pemikir yang terlihat dari pembawaannya yang tenang. Seorang yang lebih banyak membaca dan juga menulis dan tulisannya pun hingga kini masih relevan mengenai bangsa Indonesia. Bung Hatta hidup pada zaman penjajahan tapi pemikirannya melesat jauh hingga zaman modern ini. Orang yang sangat sederhana hingga suatu saat ingin menaiki suatu kendaraan Bung Hatta menawar terlebih dahulu karena terlalu mahal dan Ia pun dimaki karena terlalu banyak menawar. "Kalau tidak mampu membayar tidak usah naik".

Orang yang berpendirian teguh dan percaya pada apa yang diyakininya. Hingga akhirnya Ia pun mengundurkan diri sebagai wakil presiden karena sudah tidak sejalan lagi dengan Bung Karno yang mulai menunjukkan diri sebagai presiden seumur hidup. Walaupun begitu Bung Hatta terus mengingatkan Bung Karno bahwa tindakannya tersebut salah. Bung Hatta seorang yang disiplin waktu. Ia sudah mengatur waktunya untuk melakukan berbagai macam hal dari bangun pagi hingga tidur malam. Suatu saat ketika jam 5 sore Ia selalu menjadwalkan untuk berjalan - jalan di area perkebunan tempat pengasingannya di Banda Neira dan Bung Hatta menjadi salah seorang penunjuk jam. Di saat Bung Hatta datang melewati perkebunan, para pekerja tersebut langsung menyudahi pekerjaanya mengetahui bahwa sudah pukul jam 5 sore karena kebiasaan Bung Hatta yang selalu disiplin setiap jam 5 sore berjalan - jalan.

Kini, sepertinya tidak banyak orang tahu mengenai sejarah para pahlawan kita terdahulu. Mereka hanya tahu nama dan sebutan. Ya, semua orang pasti tahu bahwa Bung Hatta mendapat sebutan "Bapak Koperasi" lalu tidak lebih dari itu. Itulah mengapa budaya apresiasi bangsa ini masih rendah terbukti banyaknya bangunan peninggalan tokoh - tokoh penting di Indonesia yang sudah hilang, rusak ataupun beralih fungsi. Tidak banyak orang yang membaca sejarah bangsa ini terbentuk mungkin mereka hanya tahu proklamasi kemerdekaan, penjahit bendera merah putih dan yang mengetik teks proklamasi selebihnya dibalik kejadian - kejadian penting itu mereka tidak tahu. Hanya hafal tanggal. 14 Agustus 1945 peristiwa Rengasdengklok penculikan Soekarno dkk, 16 Agustus 1945 Bom Hiroshima dan Nagasaki dan 17 Agustus 1945 Proklamasi Kemerdekaan RI yang sebenernya pada tanggal 16 Agustus 1945 proklamasi kemerdekaan telah dibacakan terlebih dahulu di Cirebon oleh desakan Bung Sjahrir.

Bangsa ini butuh sosok seperti Bung Hatta yang tetap hidup sederhana di penghujung hidupnya tanpa mementingkan kekayaannya ataupun menimbun pundi - pundi rupiah atas jabatan yang Ia punya. Pemimpin yang diasingkan dan dipenjara karena tindakan dan pemikirannya untuk kemajuan bangsa bukan karena memperkaya diri serta golongannya. Pemimpin yang tidak haus akan jabatan dan kekuasaan. Jangan heran jika sekarang banyak pemimpin yang bertolak belakang dengan Bung Hatta mungkin bisa ditelisik lemari buku para pemimpin sekarang, disana kita bisa tahu jawabannya.


Senin, 12 Oktober 2015

N.B : Tunggulah

Kalau masih ada rupa
Aku tidak ingin berpura - pura
Melalui kiasan kata yang tertata
Kau dicumbu buta
Hingga kau tidak tahu rupa yang sesungguhnya

Raga yang nyata
Kosong tak berisi
Hanya angin lalu lalang berhembus
Imaji yang kau ciptakan sungguh berlebihan

Jika kiasan kata tak juga menyembuhkan
Akan aku kirim kata yang bergerak
Agar kau mampu menggenggam lengan ini

Jika aku tak kunjung rupa

NB : Tunggulah