Rabu, 01 Oktober 2014

Bulan Kemarin

Bulan Kemarin
Aku bersama angin malam
Terbang ke awan
Menyapa langit biru yang menghitam
Mematikan bintang yang akan redup
Lalu melayang layang di angkasa raya

Seluas inikah dunia?
Menjelajahinya saja aku takkan sanggup
Dimana ujungnya? aku belum pernah tahu

Segelap itukah dunia?
Butuh senter raksasa untuk menyinarinya

Benda - benda langit terhampar
Bagai puing - puing bangunan
Berserakan dimana - mana

Sebesar itukah dunia?
Siapa yang mencipta?

Kalau memang dunia seluas hamparan laut tidak berujung
Untuk apa hanya kita yang berada disini
Adakah yang lain?

Adakah yang mengisi kelapangan ini?
Sangat luas tapi sepi
Bisikan angin pun dapat terdengar

Kamu tidak sendiri
Silahkan, Dia ada untukmu
Selamanya

Minggu, 21 September 2014

Immortal

Sudahlah, jangan diam saja
Bangun!
Dia sudah pergi dan tidak akan kembali

Hujan turun ditemani cahaya matahari
Cuaca mendung yang terang
Banyak yang bilang ini hujan orang mati
Bagiku ini hujan kehidupan

Jasadnya terpecah menjadi bulir - bulir air
Mengalir ke laut lepas
Menguap oleh cahaya matahari
Menerbangkannya ke atas awan
Lalu menjadikannya hujan
Membangunkan yang tertidur

Bunga - bunga terlihat segar
Mereka habis mandi
Kadang airnya masih tersisa di tangkai bunga yang kecil
Lalu menyerap ke seluruh tangkai
Bunga itu hidup

Aku terbangun
Biarkan saja pergi
Dia sudah kembali

Kamis, 11 September 2014

Tak Kunjung Jumpa

Pernah merasa sendiri di keramaian
Memikirkan sesuatu yang tak berujung
Kapan aku bisa jumpa?

Senin, 01 September 2014

Di Bis Itu

Di Bis itu
Ibu-Ibu membawa karung
Di dalamnya berisi harapan

Di Bis itu
Bapak-bapak membawa ransel
Dia sedang memikul harapan

Di Bis itu
Pengamen memetikkan senar gitarnya
Lagu tentang harapan

Di Bis itu
Sang Supir membawa harapan

Di dalam hati
Aku selalu berharap
Harapan akan selalu ada

Seperti Sang Surya
Yang selalu ditunggu kedatangannya
Membawa secercah kehidupan
Dan menyinari setiap harapan yang terbumbung di atas awan
Berharap ia akan ditiup angin
Menuju ke Sang Surya


Sabtu, 16 Agustus 2014

Rumah

Mereka pernah berkunjung ke rumah ku
Kata mereka rumah ini tidak layak
Tembok triplek, jamban sungai
Mereka bilang kami gelandangan
Kami tidak boleh punya rumah disini
Kami disuruh pulang

Aku diajak berkunjung ke rumah mereka
Kata aku rumah ini terlalu layak
Punya taman luas, parkiran lebar, Kamar mandi 5

Aku bilang mereka politikus
Mereka boleh punya rumah dimana saja
Rumah mereka ada dimana – mana

Aku pulang
Di berita rumahku dirusak
Diganti rumah mereka yang lebih layak

Jumat, 18 Juli 2014

Seluas Memandang

Laut itu luas yaa
Seluas aku memandang
Hanya hamparan biru yang terbentang
Yang melapangkan

Laut itu luas yaa
Seperti harapan yang tidak terbatas
Berharap pada laut
Agar airnya mengering
Supaya kita bisa membuat lahan baru

Laut itu luas yaa
Seperti akal
Yang mencoba berpikir untuk tidak berpikir
Mencoba melupakan yang pernah terkenang

Laut itu luas yaa
Seperti kehidupan
Yang pada akhirnya kita tidak akan pernah tahu

Selasa, 08 Juli 2014

Hey, Pak!

Hey, pak!
Mengapa kau masih bekerja?
Kulitmu sudah keriput
Wajahmu sudah layu
Suaramu juga tidak lagi lantang

Hey, pak!
Apa yang kau lakukan?
Tenagamu sudah loyo
Mengangkat piring saja harus dibantu
Apalagi harus mengangkat pacul
Encokmu pasti langsung kambuh

Hey, pak!
Mengapa kau tidak pulang saja?
Bersama cucu bermain air
Berkebun atau sekedar bersantai
Menikmati cericit burung di pagi hari
Menghirup udara segar dari pohon yang berhembus

Hey, pak!
Hey.. pak!
Pak! Pak! Paaak!
Bangun paaak!
Mengapa kau tertidur?
Kau harusnya pergi sekarang
Jika kau tidak pergi, besok kau akan mati