Selasa, 08 Juli 2014

Hey, Pak!

Hey, pak!
Mengapa kau masih bekerja?
Kulitmu sudah keriput
Wajahmu sudah layu
Suaramu juga tidak lagi lantang

Hey, pak!
Apa yang kau lakukan?
Tenagamu sudah loyo
Mengangkat piring saja harus dibantu
Apalagi harus mengangkat pacul
Encokmu pasti langsung kambuh

Hey, pak!
Mengapa kau tidak pulang saja?
Bersama cucu bermain air
Berkebun atau sekedar bersantai
Menikmati cericit burung di pagi hari
Menghirup udara segar dari pohon yang berhembus

Hey, pak!
Hey.. pak!
Pak! Pak! Paaak!
Bangun paaak!
Mengapa kau tertidur?
Kau harusnya pergi sekarang
Jika kau tidak pergi, besok kau akan mati

Sabtu, 07 Juni 2014

Melangkahlah




Mereka yang tidak tahu kemana harus melangkah
Seperti orang buta tanpa tongkat dan kaca mata hitam
Merangkak dan meraba apa yang mereka pijak
Maju perlahan bahkan berhenti di tempat karena takut melangkah

Takut dengan sesuatu yang ada di depan
Mereka lebih memilih diam
Lebih baik aman disini

Sudah jelas mereka buta, masih berpikir rasa aman
Tidak ada tempat yang aman bagi siapa saja

Melangkahlah
dengan begitu kau akan tahu
Ketidakamananmu membuatmu aman
Melangkahlah
Walaupun di depan ada genangan air
Pijaki sampai terasa air membasahi pori – pori
Melangkahlah
Berjalan kesana tidak akan seburuk itu

Jumat, 23 Mei 2014

Konsumer-is-me



Pundi – pundi rupiah dihasilkan
Berasal dari keringat para buruh
Berasal dari suara para guru
Berasal dari usaha pengusaha
Berasal dari bekas luka pekerja luar negeri

Gedung – gedung penghalang langit
Menjulang tinggi menembus awan
Simbol kekuasaan dan kemegahan
Dibawah kemiskinan dan kekurangan
Gubuk –gubuk reyot beralaskan tanah merah
Jamban beratap triplek mengendap di tanah seusai ngeden

Belanja sana sini mencari harga diri
Kantong – kantong plastik berteriak meminta untuk diisi
Rumah makan terang benderang lebih terang daripada tempat baca
Mengisi perut lebih penting daripada mengisi kepala
Makanan harga diri
Lebih baik mati kekenyangan dengan kepala kosong

Jalan sana sini mencari makan
Tungku sudah siap
Tapi yang dimasak tidak ada
Mencari makan sampai mati
Tidak ada yang peduli

Pundi – pundi rupiah dihamburkan
Pencari makan mati kelaparan
Pelahap segala mati kekenyangan
Mereka sama – sama mati mengenaskan
Tubuh kurus kering belulang
Tubuh isi lemak bergelambir

Mereka dimatikan oleh sistem!

Selasa, 13 Mei 2014

Anak Jalanan

Rembulan bersinar dengan terang
Ditemani bintang-bintang yang berjatuhan
Riuh suara manusia berkendara
Melintas seenaknya

Asap knalpot melayang di udara
Menerpa kulit tanpa rasa
Kusam,kumel dan kucel
Tidak enak dipandang

Beralaskan karung beras
Mereka merebahkan diri
Ada canda yang terpancar
Tapi perih yang terasa

Orang-orang lalu lalang
Mata melihat memandang
Adakah yang menerawang
 Kapan mereka pulang

Mereka berlindung dibawah rembulan
Berharap malam tak akan hujan
Rembulan menjadi saksi
Keadilan di negeri belum ditepati

Senin, 28 April 2014

Selamat Malam

Berjalan menyusuri jembatan
Dihembus angin malam
Menerbangkan daun kering yang tergantung di dahan
Melayang dan jatuh di atas air yang tenang

Malam - malam yang kelam
Malam - malam yang malang
Pengemis trotoar mencari makan
Pengemis jembatan mencari uang

Menyusuri trotoar yang berlubang
Udara semakin dingin
Mereka menghias diri
Berharap makanan untuk esok hari

Malam - malam yang sial
Malam - malam yang lancang
Esok hari hanya cukup untuk makan
Esok hari hanya ada wajah lebam

Senin, 14 April 2014

Asap dari Dapur Alam

Bakar sampai habis
Angkut sampai tak bersisa
Sisakan tanah yang berserakan
Bersama cacing yang menggeliat

Asap yang mengepul
Tidak sedang berada di dapur
Asap yang menyesakkan
Tidak sedang membakar sate ayam

Boleh kau mengambilku
Tapi tolong beri aku ruang untuk tumbuh
Boleh kau membakarku
Tapi tolong asapnya kau hirup sampai habis

Suara deru menderu
Menyapu setiap sudut yang kaku
Aku menangis
Takut yang lain marah dengan bengis

Aku tidak pernah bohong dan mendusta
Biarkan kau nanti yang merasa

Senin, 07 April 2014

Menatapmu

Ada pelangi di matamu
Dalam wajah yang sayu
Memendam dalam kalbu
Di depan bunga yang layu

Ada apa disitu
Aku tidak mau tahu
Mereka terlihat membatu
Dalam tatapan yang kaku

Aku malu
Duduk diam terpaku
Wajahku lesu
Tangan mulai membiru
Kaki tak mau lagi maju
Jantung pun ikut memacu

Hujan deras membasahi baju
Aku tak mampu berlalu